ALLAH ITU BERSEMAYAM DI ATAS ‘ARSY DAN BERADA DI ATAS LANGIT

ALLAH FISSAMA'

Adalah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah mengakui bahwa Allah bersemayam di atas ‘arsy dan berada di atas langit. Banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini, baik dari Al-Qur’an, Hadits maupun perkataan para sahabat serta ulama-ulama terdahulu :

1) QS. Al-Mulk ayat 16

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. [al-Mulk/67:16]

2) QS. Al-Faathir: 10

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nyalah perkataan-perkataan yang baik naik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.”

Dinaikkannya perkataan dan amal menunjukkan bahwa Allah berada di atas.

3) QS. Al-Ma’aarij: 3-4

ذِى الْمَعَارِجِ تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Yang mempunyai tempat-tempat naik. malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap)

4) QS. Al-A’la: 1

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى

“Sucikanlah Nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi.”

5) QS. Thaaha: 5

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Allah) Yang Maha Pemurah, ber-istiwa di atas ‘Arsy.”

6) HR Imam Malik, Imam Ahmad, Abu Dawud, berikut adalah lafadz hadits yang yang diriwayatkan oleh imam Malik :

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي فَجِئْتُهَا وَقَدْ فُقِدَتْ شَاةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأُعْتِقُهَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Hilal bin Usamah dari ‘Atha bin Yasar dari Umar bin Al Hakam ia berkata; “Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, budak perempuanku mengembala kambing milikku. Saat saya mendatanginya, ternyata kambingku telah hilang satu ekor. Saat aku tanyakan kepadanya, ia menjawab, “Kambing itu telah dimakan serigala.” Aku merasa menyesal dengan kejadian tersebut, dan aku hanyalah manusia biasa, maka aku pun menampar wajahnya. Aku memiliki seorang budak, maka apakah aku harus memerdekakannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bertanya kepada budak tersebut: “Di mana Allah?” dia menjawab; “Di langit“.” Beliau bertanya lagi: “Siapakah aku?” dia menjawab; “Engkau Rasulullah, ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bebaskanlah dia! ” [HR. Imam Malik]

7) Hadits Riwayat Muslim

أَلاَ هَل بَلِغْتُ؟ قَالُوْا نَعَمْ، يَرْفَعُ أَصْبَعَهُ إِلىَ السَّمَاءِ وَيُنَكِّبُهَا إِلَيْهِمْ وَيَقَوُلُ: “اَللَّهُمَّ اشْهَدْ.”

“Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya, benar”. Lalu beliau mengangkat (menunjuk) dengan jari-jarinya ke atas, selanjutnya beliau mengarahkan jari-jarinya ke arah manusia (para sahabat) seraya bersabda, “Ya Allah, saksikanlah.” [HR. Muslim]

8) HR. Al-Bukhari

إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِيْ سَبَقَتْ غَضَبِيْ فَهُوَ مَكْتُوْبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Allah telah menulis suatu kitab (tulisan) sebelum Ia mencipatakan para makhluk (berupa), sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku, tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy.” [HR. Al-Bukhari]

9) HR. Bukhari dan Muslim

أَلاَّ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ؟ يَأْتِيْنِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءَ

“Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di langit? Setiap pagi dan sore hari datang kepadaku kabar dari langit.” [Muttafaqun ‘Alaih]

10) Imam Asy-Syafi’i berkata:

“Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit. Ia mendekati makhluk-Nya sekehendak-Nya dan Allah turun ke langit dunia dengan sekehendak-Nya.” [Dikeluarkan oleh Al-Hakawi di dalam kitab Aqidah Asy-Syafi’i].

11) Imam Abu Hanifah berkata :

“Barangsiapa mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui apakah Rabbku berada di langit atau dibumi?’ maka dia telah kafir.” Sebab Allah berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas Arsy.” [QS. Thaha: 5]

‘Arsy Allah berada di atas tujuh langit. Jika seseorang berkata bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy, tetapi ia berkata, “Aku tidak tahu apakah ‘Arsy itu berada di atas langit atau di bumi?” Maka dia telah kafir. Sebab dia mengingkari bahwa ‘Arsy berada di atas langit. Barangsiapa mengingkari bahwa ‘Arsy berada di atas langit, maka dia telah kafir, karena sesungguhnya Allah adalah paling tinggi di atas segala sesuatu yang tinggi. Dia dimohon dari tempat yang tertinggi, bukan dari tempat yang paling bawah. [Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah, Halaman. 223]

12) Imam Malik ditanya tentang cara istiwa’ (tingginya Allah) di atas ‘Arsy-Nya, ia lalu menjawab, “Istiwa’ itu perkara yang telah diketahui, sedang cara (penggambarannya bagaimana cara Allah ber istawa’) tidak diketahui oleh akal, beriman dengannya adalah wajib, dan pertanyaan tentangnya adalah bid’ah (maksudnya, tentang penggambarannya). Usirlah tukang bid’ah ini.”

Dan masih banyak lagi.

PENTING !!!

Jangan tanyakan atau menggambarkan dengan akal kita bagaimana caranya [kaifiyatnya] Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya ?. Kita hanya memahami sesuai dengan dzahir ayat tersebut sebagai manifestasi iman kepada Allah, iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya, atau oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif (merubah, mengganti), tahthil (meniadakan), takyif (bertanya, bagaimana/kaifa ?) atau tamtsil (tasybih, menyerupakan)

Nabi bersabda:

تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Lalikai dan Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar, lihat Ash-Shahihah no. 1788 dan Asy-Syaikh Al-Albani menghasankannya)

Ketahuilah ! Semoga Allah merahmatimu. Bahwa sesungguhnya berbicara tentang Allah adalah perkara muhdats (yang diada-adakan). Dan itu adalah bid’ah lagi sesat. Tidak boleh berbicara tentang Allah kecuali dengan apa yang telah Allah sifatkan kepada diri-Nya di dalam Al Qur’an dan apa yang diterangkan oleh Rasulullah kepada para shahabatnya. Allah berfirman;

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”. (QS Asy Syura : 11)

Allah Maha Permulaan tanpa waktu dan Maha Akhir tanpa batas. Dan Dia mengetahui perkara yang rahasia dan tersembunyi. Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Ilmu-Nya meliputi semua tempat, tidak ada suatu tempatpun yang luput dari ilmu-Nya.

Tidak boleh mengatakan kepada sifat-sifat Allah; Bagaimana ? dan Mengapa demikian ? Kecuali orang-orang yang ragu tentang Allah Ta’ala. [Imam Al Barbahari dalam Syarhus Sunnah]

sumber : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/seorang-budak-wanita-saja-mengerti.html

One thought on “ALLAH ITU BERSEMAYAM DI ATAS ‘ARSY DAN BERADA DI ATAS LANGIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s